Selasa, 13 Mei 2014
Pungguk dan Bulan
"Bagaikan pungguk merindukan bulan".
Peribahasa selalu mengena saat konotasi dan kiasan terdengar begitu denotatif dan nyata.
Ah, si Pungguk harus berhenti menatap idolanya, sang Bulan, sebelum dia tergerak melakukan upaya. Rasa sakitnya bukan ketika terjatuh, namun ketika sesal menyusulnya. Sesal karena dia tahu kapasitasnya yang tak akan pernah menjangkau bulan namun tetap diupayakannya. Maka jatuh hanyalah kepastian yang menunggu, dan penyesalan telah mencoba, sedikit banyak berbunga malu. Apalagi ketika sang Bulan tak sedikit pun mendapat impresi dari upayanya.
Jauh di lubuk hatinya, dan ini yang paling menyakitkan di antara semuanya, si Pungguk telah lama mengetahui bahwa sang Bulan tak pernah mengharapkannya melakukan upaya. Namun tetap saja dia berupaya.
Oh Pungguk, dia harus segera terbangun dan mulai melihat sisi kanan kirinya. Mendongak untuk Bulan memang menyenangkan, namun dia sendiri mulai mengeluhkan waktunya yg terbuang sia-sia tanpa mendapat suatu apa. Dia sendiri sadar hidupnya mulai tak berarah dan mungkin banyak gamangnya. Tuhan mungkin saja menyiapkan banyak hal indah lain di sekitarnya, bukan di atas sana.
Diam-diam pungguk menyeka air matanya. Bukan tersebab nasib ia terlahir sebagai pungguk yang tak mungkin menjangkau bulan, bukan pula karena upaya yang akhirhya ia lakukan malah berbuah sesal dan sia-sia, namun karena ia masih saja merindukan sang Bulan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar